Nilai Edukatif dalam Permainan Tradisional Bhanteng

Advertisement

Ads

Nilai Edukatif dalam Permainan Tradisional Bhanteng

SAKERA MEDIA
Selasa, 14 April 2015

Di nusantara ini, permaian tradisonal banyak sekali macamnya. Permaian tersebut umumnya dilakukan oleh anak-anak kecil untuk mengisi waktu luang. Kadang mereka melakukannya di sekolah saat jam istirahat. Kadang pula di waktu sore saat hari menginjak senja.

Sebagai bagian dari Nusantara, Madura juga punya beragam permainan tradisional. Namun, keberadaannya akhir-akhir ini disisihkan oleh merangseknya gadget dalam kehidupan anak muda Madura. Mereka lebih suka bermain ponsel, tablet, ataupun komputer. Padahal, dibanding produk modern tersebut, permainan tradisional jauh lebih punya banyak manfaat terhadap otak dan kepribadian mereka.

Salah satu permainan tradisonal Madura adalah bhanteng, sebagian orang menyebutnya bhantengan. Permainan ini mengadopsi strategi peperangan. Tekniknya, ada dua kelompok yang terdiri dari beberapa orang. Tiap-tiap kelompok punya satu bhanteng yang harus dijaga ketat dari sentuhan musuh. Biasanya, bhanteng tersebut adalah pohon yang agak besar. Pohon tersebut dikelilingi agar tidak ada tangan musuh yang bisa menyentuhnya.

Selain menjaga bhanteng, anggota kedua kelompok harus juga berusaha merebut bhanteng musuh. Butuh strategi untuk bisa menyelinap karena bhanteng selalu dijaga ketat. Mereka juga mesti hati-hati karena jika tertangkap harus menjadi tawanan musuh. Semakin banyak anggota yang ditawan tawanan, kian lemah pertahanan sebuah bhanteng. Tawanan bisa diculik oleh kelompoknya, namun jika tertangkap, si penculik harus ditahan juga.

Inti dari permainan ini adalah merebut pohon (bhanteng) milik musuh dengan cara menyentuhnya. Jika sudah berhasil menguasainya, maka kelompok tersebut dinyatakan sebagai pemenang.
Lalu, apa nilai edukatif dari permainan di atas?
Hal yang paling menonjol adalah melatih strategi. Ketika dihadapkan dengan situasi sulit, pemain akan senantiasa mencari cara pemecahannya. Saat sebagian besar koleganya tertawan, yang otomatis kekuatan di pihaknya akan mengendur, otak otak si pemain segera berputar mencari cara agar bhanteng-nya tidak direbut musuh.

Tidak hanya mempertahankan bhanteng sendiri, tiap-tiap kelompok juga harus mencari cara yang cerdik agar bisa menguasai bhanteng musuh. Mereka bisa menyamar, mengelabui dan mengecoh musuh layaknya dalam sebuah pertempuran sungguhan.
Nilai edukatif lainnya adalah melatif anak mengorganisir kelompok. Sebuah kelompok bisa menang jika tiap-tiap anggotanya bisa berorganisasi dengan baik, mengimplementasikan strategi dengan jitu.