Nasib Pelabuhan Kamal Pasca Suramadu

Advertisement

Ads

Nasib Pelabuhan Kamal Pasca Suramadu

Unzilatur Rahmah
Senin, 27 April 2015

Suasana Pelabuhan Kamal Pasca Suramadu
Sekitar dua setengah tahun yang lalu, penulis sempat mendampingi adik-adik kampus untuk latihan jurnalistik lapangan ke daerah pelabuhan Kamal, Bangkalan. Saat itu pula, penulis baru sadar, pelabuhan Kamal tidak lagi seperti dulu sebelum diresmikannya Jembatan Suramadu.

Kata orang-orang yang sering pulang-pergi pulau Madura-Jawa, sebelum adanya Suramadu, pelabuhan ini tetap ramai di hari-hari biasa sekali pun. Bahkan jika masuk pada hari-hari besar, pelabuhan ini selalu antri hingga berdesak-desakan karena saking banyaknya penumpang.

Kondisi ini rupanya telah berubah sejak jembatan Suramadu diresmikan. Di hari-hari biasa, Pelabuhan Kamal memang tidak pernah tidak ada penumpang yang hendak menyeberang. Namun jumlah penumpang tidak lagi ramai seperti sebelum adanya Suramadu. Itu pun setelah kapal ferry yang beroperasi di 3 pintu masuk Pelabuhan Kamal menunggu hingga beberapa puluh menit.
Para Pedagang Beralih ke Suramadu
Aktivitas calon penumpang di pelabuhan Kamal pun menjadi semakin berkurang seiring dengan matahari yang semakin condong ke Barat. Bus antar kota tujuan Madura kelas ekonomi sekalipun, biasanya akan lebih memilih jalur Suramadu jika hari sudah sore. Hanya ada beberapa pengendara sepeda motor, dan penumpang tanpa kendaraan yang menyeberang karena tempat tinggalnya memang lebih dekat jika lewat Pelabuhan Kamal.

Aktivitas perekonomian di Pelabuhan Kamal pun menjadi lebih sepi. Jika dulu banyak sekali masyarakat yang menjual makanan, sekarang perlahan terus berkurang. Karena memang semakin sedikit calon penumpang yang memilih menyeberang di Pelabuhan Kamal dibandingkan masyarakat yang memilih jalur Suramadu. Dan kebalikannya, jalan akses Suramadu di wilayah Bangkalan semakin ramai dengan para penjual di pinggir jalan yang menjual pernak-pernik dan makanan khas Madura.