Mengenal Kearifan Lokal Madura Lewat Ser Maleng

Advertisement

Ads

Mengenal Kearifan Lokal Madura Lewat Ser Maleng

SAKERA MEDIA
Minggu, 05 April 2015

Yang terbayang di benak masyarakat non-Madura ketika mendengar kata “Madura” barangkali adalah carok. Madura memang sudah terlanjur diedentikkan dengan celurit dan kekerasan-kekerasan lainnya. Stereotip tersebut sudah tampak menyusup dan mendarah daging utamanya di kalangan non-Madura. Namun, melihat Madura hanya dari sisi watak kerasnya rasanya kurang fair juga. Sebab kenyataannya, tidak semua orang Madura berbuat kekerasan sebagaimana yang disebutkan tadi. Kekerasan yang hanya dilakukan oleh sebagian orang saja tidak bisa merepresentasikan suatu daerah.

Di Madura, kita juga akan menjumpai kearifan-kearifan lokal yang justru kontraproduktif dengan stigma buruk yang dialamatkan banyak orang. Salah satu kearifan tersebut bisa kita temukan dalam tradisi ser maleng. Tradisi ini menampakkan kearifan lokal orang Madura dari sisi religiusitas dan sosial. Ser maleng adalah tindakan berbagi sedekah kepada orang lain yang tidak diketahui siapa yang memberikannya.

Dalam praktiknya, orang yang melakukan ser maleng biasanya memberi beras, kopi, gula, rempah-rempah-rempah dan makanan pokok lainnya. Barang yang akan diberikan itu biasanya ditaruh di depan pintu orang yang akan diberi pada malam hari, tentu tanpa memberi tahu si penghuni rumah. Pagi hari, si penerima ser maleng akan kaget melihat bungkusan tanpa tahu siapa pemberinya. Yang mungkin bisa dilakukan oleh penerima adalah memberi tahu tetangga bahwa dirinya baru saja mendapatkan ser maleng.

Tradisi ini mengandung nilai religiusitas karena mengajarkan si pemberi untuk ikhlas berbagi, tidak sombong, dan tidak menganggap besar pemberiannya. Hikmah inilah yang bisa ditemukan dalam tradisi ser maleng yang mungkin tidak bisa dijumpai dalam tradisi di daerah-daerah yang lain.