Madura, Sarung, dan Kaum “Sarungan”

Advertisement

Ads

Madura, Sarung, dan Kaum “Sarungan”

SAKERA MEDIA
Senin, 06 April 2015

Ilustrasi
Sarung sangat dekat dengan orang Madura. Dalam kesehariannya, kebanyakan orang Madura menggunakan sarung. Bukan gamis ataupun celana. Entah alasannya apa. Sarung sudah mulai diperkenalkan sejak dini oleh orangtua kepada anaknya. Ketika akan mengaji ke surau dan masjid, orangtua pasti akan memakaikan sarung kepada anaknya. Orangtua seolah ingin mengajarkan kepada anaknya bahwa sarung sangat erat kaitannya dengan agama.

Sarung bisa disebut sebagai kearifan lokal yang mengenalkan identitas orang Madura. Sehingga wajar, orang Madura ketika berada di luar kota sangat tampak identitasnya saat mereka memakai sarung. Ketika akan melakukan perjalanan jauh, tak lupa orang Madura membawa sarung sebagai busana ketika akan melakukan shalat. Sarung adalah salah satu cara orang Madura untuk menghormati Tuhannya, meski pada masa Nabi Saw. belum dikenal istilah sarung.

Memang tidak ada yang istimewa dari sarung. Ia terlihat biasa saja. Tetapi sarung bisa menjadikan pemakainya disebut sebagai orang yang agamis dan taat beragama. Melalui sarung, orang Madura bisa mengenal tradisi “kaum sarungan” seperti tahlil, ziarah kubur, maulid Nabi, mencium tangan kyai, dan tradisi-tradisi lain yang dianggap bid’ah oleh Wahabi. Mungkin ini salah satu alasan mengapa orang Madura sangat lekat dengan sarung. Karena sebagian besar masyarakat Madura memang menganut Islam NU.

Bagi kelompok yang bukan “kaum sarungan”, mungkin sarung juga termasuk kategori bid’ah, karena ia tidak ada pada masa Nabi.  Namun, sarung mampu mengajarkan orang Madura untuk lebih toleran terhadap budaya lokal dan memandang ajaran Islam secara lebih elastis. Sampai saat ini, orang Madura meyakini bahwa sikap toleransi terhadap lingkungan sekitar dapat menyelamatkan Islam dari kekakuan hukum dan syari’at.