Lebih Dekat dengan ‘Labeng Mesem’ di Keraton Sumenep

Advertisement

Ads

Lebih Dekat dengan ‘Labeng Mesem’ di Keraton Sumenep

SAKERA MEDIA
Minggu, 05 April 2015

Kalau Anda ingin mengetahui peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu di Sumenep, maka datangilah keraton Sumenep yang terletak di Jln. Dr. Soetomo No. 6. Di sana, Anda akan dipertemukan dengan benda-benda kuno bersejarah yang unik dan menarik. Koleksi barang yang ada di museum keraton Sumenep memberi gambaran mengenai kehidupan di masa kejayaan Keraton Sumenep dahulu. Benda-benda tersebut ada yang sebagian pemberian Inggris seperti kereta kencana, peninggalan Dinasti Ming, dan ada pula peninggalan dari Tiongkok yang menghiasi etalase ruangan. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Sumenep memiliki hubungan yang cukup erat dengan kerajaan Cina.

Di Museum ini, Anda akan memasuki tiga tempat. Di tempat yang terakhir terdapat sebuah taman pemandian yang bernama Taman Sare. Taman ini dulu menjadi tempat pemandian Potre Koneng (putri kuning) alias Ratu Ayu Tirto Negoro. Setelah keluar dari tempat ini, Anda akan dipertemukan dengan pohon yang sangat besar, orang-orang di sana menyebutnya ‘pohon jantan’. Kenapa jantan? Karena pohon itu memiliki bentuk seperti kemaluan laki-laki di bagian bawah pohon. Nah, tak jauh dari pohon tersebut ada sebuah pintu besar yang disebut ‘labeng mesem’ (pintu tersenyum).


Mungkin Anda heran dan bertanya-tanya, kok ada pintu tersenyum? Ada beberapa latar belakang mengapa pintu tersebut dinamakan labeng mesem. Pertama, di dua sisi bangunan itu ada pintu kecil yang konon dijaga oleh dua orang cebol. Orang-orang yang melihatnya akan langsung tersenyum karena merasa lucu dengan bentuk tubuh dua orang cebol tadi. Kedua, karena dulu, para raja sering melihat para putri mandi di Taman Sare dari bangunan yang cukup tinggi itu, dan kebetulan langsung lurus ke arah Taman Sare. Biasanya para raja ini akan tersenyum melihat sang istri yang sedang mandi itu.

Lalu, karena Labeng Mesem ini adalah persinggahan terakhir, pengunjung akan keluar dari museum dengan wajah sumringah karena terhipnotis dengan cerita-cerita kerajaan dan benda-benda peninggalan kerajaan Sumenep dulu. Bisa jadi filosofinya juga seperti itu.