Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan

Advertisement

Ads

Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan

SAKERA MEDIA
Selasa, 14 April 2015

Kerapan sapi sudah menjadi ikon budaya di Madura. Budaya Madura yang begitu dikenal di mata dunia adalah kerapan sapi. Namun sayang, dalam praktiknya, kerapan sapi tidak indah dalam pandangan mata karena terdapat unsur penyiksaan terhadap sapi yang dikompetisikan.

Sebelum bertanding, sang pengkerap akan melakukan bermacam cara untuk menjadikan sapinya kencang berlari, mulai dari memberinya jamu berupa telur dan minuman bersoda hingga melukai bagian pantatnya. Si pengkerap akan tega memarut pantat sapinya dengan paku hingga kulitnya berdarah. Kemudian saat adu cepat berlangsung, mereka juga mengusik bagian luka tersebut dengan parut atau cambuk berduri agar sapi merasa kesakitan dan larinya makin kencang.

Selain melukai bagian pantat, anus sapi juga diberi balsem. Ini juga dimaksudkan agar sapi merasa kepanasan dan larinya semakin kencang. Saat dalam keadaan sakit dan kepanasan, sapi akan berlari secara membabi buta mendahului lawannya.

Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, muncul inisiatif dari para tokoh ulama dan dukungan dari berbagai pihak agar budaya kerapan sapi dilaksanakan tanpa kekerasan. Sebab, kekerasan pada sapi justru menodai nilai luhur dari kebudayaan Madura itu sendiri. Untuk itulah, akhirnya Badan Koordinasi wilayah Pamekasan mengadakan even kerapan sapi tanpa kekerasan untuk pertama kali yang telah terlaksana pada tahun 2012.

Pelaksanaan kerapan sapi tanpa kekerasan tetap menarik untuk ditonton, sebab lomba berjalan secara alamiah. Tanpa adanya penyiksaan, justru lebih bisa dinilai mana sapi yang memang punya kekuatan berlari cepat dan mana yang tidak. Kecepatan sapi berlari murni karena kekuatan sapi itu sendiri, bukan karena disakiti.

Kompetisi kerapan sapi tanpa kekerasan ini harus terus didukung dan disosialisasikan secara massif pada masyarakat Madura, utamanya oleh pihak yang berwenang. Selain tidak menyiksa binatang, pemenang lomba kerapan tanpa kekerasan menjadi lebih adil dan alamiah.