Inilah Artefak Budaya Madura

Advertisement

Ads

Inilah Artefak Budaya Madura

Aminullah
Sabtu, 04 April 2015


Sebagaimana lazimnya daerah-daerah yang lain, Madura juga memiliki benda-benda masa lalu yang menjadi ikon dan ciri khas Madura. Benda-benda tersebut mungkin ada diantaranya yang begitu familiar di kalangan non-Madura. Adapun benda-benda tersebut adalah:

Are’
Are’ atau sada’ adalah pisau berbilah yang melengkung dan berhulu panjang yang awalnya dipakai untuk menyabit rumput. Benda ini belakangan menjadi populer karena sering diasosiasikan dengan watak keras orang Madura. Sebagai alat pertanian, pandai besi Madura telah mengembangkannya untuk memenuhi berbagai macam keperluan tertentu di lapangan. Arit yang bilahnya kecil dan pendek, dan biasanya diberi gagang panjang sangat cocok dipakai untuk menyabit rumput, menyiangi, dan mencungkil. Alat ini disebut petok. Benda inilah yang banyak dipakai petani Madura untuk keperluan mereka di tegal dan sawah. Sedangkan arit yang populer dengan nama “celurit” adalah senjata tajam yang umumnya diberi tangkai agak pendek dan dibuat menggunakan baja bermutu sehingga terjamin kekuatan dan ketajamannya.

Panebbha
Panebbha sebenarnya tidak jauh beda dengan po-sapo, yaitu sapu lidi yang berasal dari daun kelapa. Akan tetapi, po-sapo umumnya lebih besar karena menggunakan lidi yang lebih banyak ketimbang panebbha. Po-sapo lebih pendek karena ujung lidi harus dipotong agar keseluruhan sapu tersebut bersifat kaku, sebab po-sapo digunakan untuk membersihkan taneyan (halaman). Sedangkan panebbha lebih sedikit menggunakan lidi dan lebih panjang ketimbang po-sapo, karena ujungnya tidak dipotong sebagaimana po-sapo. Alat ini dipakai untuk membersihkan kotoran seperti debu di tempat tidur atau butir nasi di tikar.

Ghendhungan
Ghendhungan adalah kentungan kayu yang dibuat berongga dan berukuran besar. Bentuknya gemuk dan pendek. Bila dipadukan dengan pemukulnya, maka akan mengelujarkan bunyi dhung-dhung-dhung, sehingga benda ini juga dinamakan dhungdung. Biasanya, gendhungan dibunyikan untuk menandakan waktu, memanggil orang, dan juga sebagai tanda ada bahaya seperti kebakaran, banjir, atau terjadi carok. Dulu, setiap desa pasti mempunyai gendhungan yang digantung di posko jaga. Namun, belakangan benda ini sudah jarang terlihat di Madura.