Di Manakah Bahasa Madura Sekarang?

Advertisement

Ads

Di Manakah Bahasa Madura Sekarang?

SAKERA MEDIA
Sabtu, 11 April 2015


Sebagaimana dalam bahasa Indonesia, bahasa Madura juga punya tingkatan. Secara umum, bahasa Madura punya tiga tingkatan, yaitu kasar (enje’-iye), menengah (enggi-enten), dan halus (enggi-bunten). Bahasa Madura yang kasar biasanya digunakan kepada teman dan orang-orang dekat, bahasa menengah dipakai kepada orang yang lebih tua, sedangkan bahasa halus digunakan kepada orang tua yang lebih disegani.

Dalam praktiknya, penggunaan bahasa Madura tidak sekadar menyangkut bahasa. Jauh lebih penting dari itu, persoalan bahasa juga menyangkut soal etika atau tatakrama. Orang Madura yang menggunakan bahasa Madura kurang tepat kepada lawan bicaranya dianggap tidak punya tatakrama, misalnya menggunakan bahasa kasar kepada orang yang lebih tua.

Pendidikan berbahasa yang baik harus ditanamkan sejak dini oleh orangtua kepada anaknya. Dari kecil, orang Madura biasanya mengajarkan bahasa halus kepada anaknya saat lawan bicara mereka adalah orang yang lebih tua. Kebiasaan sejak kecil akan terbawa saat anak tumbuh dewasa. Ketika kecil anak terbiasa berbahasa kasar, misalnya, maka saat mereka dewasa akan melakukan hal yang sama. Dari itulah, penting kiranya orangtua menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada anak saat mereka masih di usia dini, termasuk pula persoalan bahasa.

Namun sayang, melihat fenomenanya saat ini, trend bahasa Indonesia atau bahasa asing justru mengalahkan bahasa Madura itu sendiri. Orang Madura tampaknya lebih tertarik mengajarkan kebiasaan berbahasa Indonesia ketimbang berbahasa Madura kepada anaknya. Akibatnya, bahasa Madura seolah tenggelam tanpa ada yang menyemainya. Tidak mengherankan jika kebanyakan anak muda saat ini kurang fasih menggunakan bahasa Madura yang halus. Mereka kerap kali tidak bisa berbahasa Madura yang baik kepada lawan bicaranya yang dianggap lebih tua, misalnya mencampur-adukkan bahasa kasar dengan bahasa halus.

Di sisi yang lain, bahasa Madura yang tampak semakin punah juga didukung oleh lembaga pendidikan yang kurang memperhatikan bahasa daerah. Buktinya, bahasa daerah ternyata hanya digunakan mata pelajaran di tingkat SD/MI. Selebihnya tidak ada. Konsekuensinya, siswa lebih dekat dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang justru menjadi mata pelajaran dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.