Dhâmar Talpè’, Hampir Punah tapi Kadang Masih Dibutuhkan

Advertisement

Ads

Dhâmar Talpè’, Hampir Punah tapi Kadang Masih Dibutuhkan

Jumat, 10 April 2015


Lampu minyak atau Dhâmar Talpè’ merupakan sisa-sisa barang peninggalan jaman dulu. Dulu sebelum ada lampu listrik, masyarakat menggunakan Dhâmar Talpè’  sebagai penerangan. Penerangan ketika akan beraktivitas di malam hari. Baik itu makan, belajar, maupun aktivitas lainnya yang membutuhkan penerangan.
Setelah kehadiran listrik, masyarakat mulai beralih menggunakan lampu pijar 5 watt. Seiring dengan perkembangan teknologi, lampu pijar pun sudah jarang dilakukan. Masyarakat pun beralih pada lampu neon. Dan seiring itu pula, konsumsi listrik masyarakat pun semakin tinggi.

Karena tingginya pemakaian listrik, PT. PLN Persero pun sering kali melakukan kebijakan pemadaman bergilir. Hal ini untuk menyiasati penghematan listrik. Karena pertumbuhan sumber pembangkit listrik tidak seimbang dengan pertumbuhan kebutuhan masyarakat akan listrik. Masyarakat juga sering tidak mengindahkan himbauan pemerintah untuk menghemat listrik.

Ketika ada pemadaman listrik pada malam hari, masyarakat membutuhkan sumber penerangan lain untuk bisa beraktivitas. Ada yang menggunakan senter, lampu charger, genset, lampu strongking, lilin hingga kembali pada alat penerangan lama; Dhâmar Talpè’ . Dhâmar Talpè’  pun kembali dicari saat terjadi pemadaman. Sayangnya karena harga minyak tanah yang saat sangat mahal, masyarakat lebih memilih lilin untuk menggantikan lampu sebagai penerangan.

Lampu minyak pun semakin jauh dari masyarakat. Meski masih ada beberapa masyarakat yang masih mau menggunakan lampu peninggalan sejarah ini. Tentu dengan menggunakan bahan bakar minyak yang cukup mahal.



Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Ahmad/EMC