D. Zawawi Imron, Penyair Kondang Berdarah Madura

Advertisement

Ads

D. Zawawi Imron, Penyair Kondang Berdarah Madura

SAKERA MEDIA
Rabu, 15 April 2015


Dari sekian banyak karya-karya yang diterbitkannya, beberapa diantaranya telah mendapatkan penghargaan, yaitu: “Celurit Emas” dan “Nenek Moyangku Air Mata” terpilih sebagai puisi terbaik Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Beliau juga penerima hadiah utama penulisan puisi ANTV dalam rangka HUT RI ke-50 (1995).

Selain itu, beliau pernah diundang menjadi pembicara dalam Seminar Majelis Asia Tenggara (MASTERA) di Brunei Darussalam pada tahun 2002 dan pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda pada tahun yang sama.  Lalu pada tahun 2012, puisinya yang berjudul “Kelenjar Laut” telah berhasil membawanya ke Thailand untuk memenuhi undangan Raja Thailand dalam serah terima penghargaan Penyair Asia Tenggara (South East Asia Writer Award). Dan di tahun sebelumnya, puisi tersebut mendapatkan penghargaan hadiah sastra Asia Tenggara dari kerajaan Malaysia di Kuala Lumpur.

Meski pendidikan beliau hanya berhenti di tingkat SR (Sekolah Rakyat), namun hal tersebut tidak menjadikan dirinya berputus asa untuk terus berkarya. Cara yang dilakukan beliau untuk menjadi penyair yang diperhitungkan dunia hingga saat ini adalah belajar secara otodidak. Apa pun yang dilakukan secara istiqamah, pada akhirnya akan berbuah. Keteladanan inilah yang patut dicontoh dari sosok D. Zawawi Imron.

Di usianya yang semakin senja, mendekati 73 tahun, Zawawi masih produktif berkarya di lingkungan tempat dia dilahirkan, Gapura, Sumenep, Madura. Puisi-puisinya sering kali memuat khazanah kebudayaan Madura yang terdapat di sekitarnya. Beliau berdialog dengan lingkungannya untuk melahirkan sajak-sajak yang inspiratif. Beda dengan penyair-penyair lain yang kebanyakan mengangkat “kemodernan Indonesia” kaitannya dengan politik dan sosial, Zawawi justru menghadirkan budaya daerah di setiap sajaknya sehingga menjadikan puisi-puisinya lembut dan tidak tampil beringas.