Air Nira dan Bungbung, Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan

Advertisement

Ads

Air Nira dan Bungbung, Dua Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan

Unzilatur Rahmah
Minggu, 05 April 2015

Air Nira, Legen atau Aeng La’ang merupakan salah satu komoditas unggulan Madura. Hampir di setiap kabupaten di Madura, mampu menghasilkan jenis air alami ini. Karena di masing-masing kabupaten, pasti terdapat Pohon Siwalan yang tumbuh dengan sangat subur. Air Nira merupakan jenis air yang dihasilkan dari tetesan Pohon Siwalan Laki-Laki (Pohon Siwalan yang tidak berbuah). Cara mendapatkan Air Nira ialah dengan cara memotong ujung Manyang yang masih muda, kemudian diambil getahnya yang berupa Air Nira.
 
Wadah yang digunakan biasanya disebut Bungbung. Bungbung merupakan sejenis wadah  berbentuk silinder terbuat dari potongan Bambu. Agar salah satu ujungnya tertutup sehingga membentuk wadah, Bambu dipotong di belakang bukunya. Semakin tua Bambu yang digunakan, semakin bagus kualitas Bungbung yang dihasilkan. Bungbung yang terbuat dari bambu tua biasanya lebih awet dan tidak mudah lapuk.

Kenapa wadah nira tidak menggunakan seng, plastik, atau perabotan buatan prabrik? Jaman dulu, mana ada perabotan buatan pabrik yang bisa digunakan sebagai wadah Air Nira. Jadi masyarakat memanfaatkan alam sebagai bahan untuk membuat perabotan. Lagi pula, menggunakan Bungbung sebagai wadah penampungan Air Nira merupakan pilihan yang sanagt tepat. Bahannya tidak mengandung bahan kimia berbahaya.

Kalau menggunakan seng, khawatir karat. Kalau menggunakan tembaga sekali pun, bagian-bagian tembaga bisa saja mengelupas meski partikelnya hanya sedikit. Apalagi menggunakan plastik, tidak beda bahayanya dengan menggunakan seng. Sedangkan Bungbung, meski bagiannya akan mengelupas sekalipun, jika tertelan tidak berbahaya sama sekali. Karena Batang Bambu merupakan bahan alami yang mudah dicerna oleh tubuh.

Sebagai alat untuk menampung Air Nira, Bungbung biasanya diberi tali pengikat di bagian luarnya. Kemudian digantung dimana mulutnya mengarah ke bagian Manyang Pohon Siwalan yang sudah dipotong. Getahnya yang berupa Air Nira pun menetes sedikit demi sedikit. Ketika sudah seharian atau semalaman, Bungbung akan terisi penuh. Air Nira pun siap diambil dan kemudian disalin ke wadah lain untuk dinikmati.