Nikah Muda Masih Menjadi Hal Biasa di Madura

Advertisement

Ads

Nikah Muda Masih Menjadi Hal Biasa di Madura

Unzilatur Rahmah
Kamis, 26 Maret 2015


Saat BKKBN gencar kampanye agar menikah pada usia minimal 22 tahun untuk perempuan, dan 25 tahun untuk laki-laki, itu nampaknya tidak terlalu didengarkan oleh masyarakat Madura. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang memilih segera menikahkan putra-putrinya.

Ketika usia anak sudah mencapai belasan tahun, orang tua akan mulai memikirkan tentang jodoh bagi anak. Apalagi tingkah lakunya mulai menunjukkan suka pada lawan jenis, dan terlihat berdua dengan lawan jenis di beberapa kesempatan atau pacaran. Meski tidak pacaran, jika anak perempuan berusia 14 tahun sudah ada yang melamar, orang yang melamar itu akan segera diterima. Dan selang beberapa bulan atau beberapa tahun, akan segera dinikahkan.

Kebiasaan masyarakat Madura terburu-buru menikahkan anaknya sebetulnya bukan tanpa alasan. Alasan pertama, karena tidak ingin anaknya terjerumus ke dalam perbuatan maksiat sejenis pacaran. Alasan kedua, tanggung jawab menjadi orang tua itu memang sulit. Tanggung jawab orang tua akan menjadi lebih ringan jika anaknya sudah menikah.

Meski menikah muda, bukan berarti langsung memiliki anak. Pasangan suami-istri muda biasanya akan menunda kehamilan hingga beberapa tahun. Minimal satu tahun. Caranya tentu dengan mengikuti program keluarga berencana. Meski demikian, bagi yang menikah di usia belasan tahun muda, tetap saja saat hamil, si istri masih berusia belasan tahun. Sehingga perbedaan antara usia anak dengan orang tua hanya belasan tahun.

Fenomena ini banyak terjadi terutama pada perempuan. Kalau laki-laki, ada tapi tidak sebanyak yang terjadi pada perempuan. Perbedaan usia yang jauh antara pihak laki-laki dan perempuan juga merupakan hal yang biasa. Pihak perempuan berusia belasan tahun bawah, pihak laki-laki berusia antara 20-25 tahun.



Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Ahmad/EMC