Tradisi Nyono’ Kangkang Sebagai Bentuk Permohonan Ridha Orang Tua

Advertisement

Ads

Tradisi Nyono’ Kangkang Sebagai Bentuk Permohonan Ridha Orang Tua

Kamis, 01 Januari 2015

Salah satu kebiasaan yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat Madura adalah Tradisi Nyono’ Kangkang. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan dan permohonan ridha orang tua, khususnya kepada ibu.
Tradisi Nyono’ Kangkang biasanya dilakukan ketika anak akan menghadapi sesuatu yang besar dalam hidupnya dan membutuhkan do’a dan dukungan yang besar pula. Misalnya jika anak akan menikah, akan merantau, akan menghadapi ujiah sekolah, dan momen besar lainnya. Tradisi Nyono’ Kangkang merupakan upaya anak untuk meminta restu dan do’a khusus dari orang tua.

Dengan melakukan Tradisi Nyono’ Kangkang, anak berharap segala urusannya dimudahkan oleh Allah. Teriring do’a, dukungan, dan restu dari ibu. Cara melakukannya, anak hanya tinggal merangkak di bawah kangkangan ibunya yang sedang berdiri. Sambil meminta do’a dan dukungan darinya. Jika ibu mau melakukannya, maka artinya dia merestui, mendo’akan dan mendukung sepenuhnya langkah anak. Namun jika tidak, bukan berarti ibu tidak merestui. Karena ada beberapa ibu-ibu yang tidak mau dilewati di bawah kangkangannya meski oleh anaknya sendiri.

Tradisi Nyono’ Kangkang memang terkesan berlebihan, mengingat Rasulullah tidak pernah menundukkan kepala kepada manusia sekali pun. Apalagi merangkak di bawah kangkangan ibu. Namun, itu lah tradisi. Tradisi Madura adalah simbol kearifan lokal Madura yang tidak akan buruk jika dilestarikan. Apalagi saat ini, perlakuan anak kepada orang tua justru berbanding terbalik dengan nilai-nilai yang ada dalam Tradisi Nyono’ Kangkang. Membentak, melawan, bahkan menyakiti hati kedua orang tua. Tapi, semuga saja para pembaca termasuk orang yang tidak pernah berlaku kasar kepada orang tua secara sadar dan sengaja.


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Saiful/EMC