Produksi Ghâmpèn Ternyata Tidak Bisa Sembarangan

Advertisement

Ads

Produksi Ghâmpèn Ternyata Tidak Bisa Sembarangan

Rabu, 28 Januari 2015

Memproduksi Ghâmpèn yang prosesnya hanya membakar batu hingga matang, ternyata tidak bisa sembarangan. Kalau salah, produksi Ghâmpèn bisa gagal. Batu gagal matang. Ghâmpèn pun tak jadi. Sebagai salah satu usaha masyarakat agar produksi Ghâmpènnya tidak gagal, dilaksanakan lah sejenis ritual yang disebut Bu’sobu’.

Masyarakat yang biasa melakukan ritual ini salah satunya masyarakat Dusun Garu’ Desa Blumbungan Pamekasan, yang merupakan sentra produsen Ghâmpèn atau kapur barus. Masyarakat Dusun Garu’ percaya bahwa kegagalan produksi Ghâmpèn karena gangguan makhluk halus yang disebut patoghu.

 Agar makhluk halus tersebut tidak mengganggu produksi Ghâmpèn, dilaksanakan lah ritual Bu’sobu’ sebagai bentuk penghormatan kepada patoghu tersebut. Patoghu dalam tungku, berdasarkan keterangan masyarakat ada 4 yakni Pak Langghudi, Bu Langgudhi, Pak Saripa dan Bu Saripah. Makanya salah satu sesajen dalam ritual Bu’sobu’ ialah sate ayam 5 tusuk yang diperuntukkan kepada mereka berempat, dan yang satu tusuk untuk rumah mereka.

Sesajen yang diperlukan dalam ritual Bu’sobu’ antara lain jajan pasar 7 macam, sate ayam 5 tusuk yang diambil dari daging ayam yang disembelih sendiri (bukan membeli potongan dari pasar), taker yang berisi nasi, sayur, dan telur rebus yang dibelah, serta air kembang.

Sesajen ini tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Juga tidak boleh terdapat kesalahan, jika tidak mau produksi Ghâmpènnya gagal. Proses ritual Bu’sobu’ pada produksi Ghâmpèn ini dimulai dari pagi hari. Pada pagi hari, pemilik tungku sudah mulai meletakkan batu-batu di atas tungku. Juga mengangkut kayu sebagai bahan bakarnya.

Ketika matahari mulai tenggelam, semua jenis sesajen yang sudah disebutkan di atas diletakkan di atas tungku di pinggir batu-batu yang sudah tersusun. Setelah itu, pemilik tungku mengundang tetangga terdekat untuk ikut berdoa kepada Allah agar dilancarkan segala usahanya, terutama dalam produksi Ghâmpèn saat itu. Usai berdo’a bersama, tungku pun dinyalakan apinya.

Saat matahari terbit, api sudah mulai meninggi di atas batu. Saat itu, sesajen Bu’sobu’ yang berupa air kembang disiramkan ke tungku bagian atas, di pinggir batu. Sedangkan sesajen yang berupa makanan dibagikan ke orang lain untuk dimakan. Jika dilihat secara kasat mata, tradisi ini memang sedikit mendekati syirik.

Karena masyarakat memberikan sesajen kepada makhluk halus yang sama dengan tradisi hindu. Namun jika kita tinjau ulang, maksud sesajen tersebut ialah untuk menenangkan makhluk halus tersebut. Dan mereka pun bukan meminta kepada makhluk halus, tetapi meminta kepada Allah. Wallahu a’lam.




Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Saiful/EMC