Produksi Ghâmpèn di Madura

Advertisement

Ads

Produksi Ghâmpèn di Madura

Unzilatur Rahmah
Rabu, 28 Januari 2015

Sebelum ada semen, jaman dahulu masyarakat Madura menggunakan Ghâmpèn sebagai campuran pasir ketika membangun rumah. Fungsinya sama dengan semen, sebagai penguat bangunan. Meski tidak seefektif semen, ada beberapa masyarakat yang sampai saat ini masih menggunakan Ghâmpèn.

Namun porsinya tidak banyak. Ghâmpèn juga digunakan sebagai pengganti cat tembok berwarna putih saat dulu belum ada cat tembok atau semen putih. Menggunakan Ghâmpèn sebagai cat tembok tentu tidak sebagus kualitas ketika menggunakan semen putih atau cat tembok.

Ketika sudah kering, putihnya cat tembok dari Ghâmpèn akan pindah ketika di sentuh. Tangan atau baju pun menjadi putih jika secara tidak sengaja bersenggolan dengan tembok. Ghâmpèn disebut pula dengan kapur barus. Ghâmpèn terbuat dari batu-batuan yang dibakar hingga matang.

Di daerah Blumbungan, Pamekasan, terdapat keluarga yang pekerjaannya memproduksi Ghâmpèn. Batu dibakar di atas tungku yang sangat besar terbuat dari tanah liat selama kurang lebih 3 hari 3 malam. Batu dikatakan matang apabila disiram dengan air, ia hancur dengan sendirinya.

Selain digunakan sebagai bahan bangunan, Ghâmpèn juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Dahulu, masyarakat Madura sering menggunakan air kapur barus yang sudah didiamkan sebagai jamu. Rasanya tentu sangat pahit. Selain itu, kapur barus juga efektif menghilangkan bau badan. Yakni dengan mengoleskan kapur barus yang sudah direndam air pada ketiak sebagai pengganti deodorant. Menggunakan kapur barus sebagai deodorant tidak memiliki efek samping. Karena merupakan bahan alami serta tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti yang terdapat pada deodorant.




 Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Saiful/EMC