Peringatan Kematian di Madura, Perlukah ?

Advertisement

Ads

Peringatan Kematian di Madura, Perlukah ?

Unzilatur Rahmah
Rabu, 07 Januari 2015

Salah satu tradisi Madura yang cukup menarik untuk dibahas adalah tradisi peringatan kematian. Merupakan salah satu tradisi dalam rangka mengingat seseorang yang sudah meninggal. Dilakukan setiap hari ke -7, hari ke-40, hari ke-100, setelah 1 tahun, dan hari ke-1000. Peringatan kematian biasanya dilakukan oleh keluarga si almarhum.

Pihak keluarga mengundang masyarakat dan tokoh masyarakat sekitar untuk melaksanakan tahlilan bersama. Sebelum tahlilan dimulai, hadirin dan para undangan membaca Al-Fatihah kepada Rasulullah dan khusus almarhum yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Usai tahlilan, undangan disajikan hidangan oleh pihak keluarga yang mengundang. Selain hidangan yang dimakan di tempat, biasanya juga mendapat bingkisan makanan dari keluarga yang disebut ‘bherkat’.

Peringatan kematian sebetulnya tidak ada dalam Al-Qur’an mau pun hadist. Yang ada hanya anjuran untuk mendo’akan orang yang telah meninggal. Terlebih do’a anak untuk orang tuanya yang sudah meninggal. Peringatan kematian memang terkesan ceremonial belaka. Karena kalau hanya ingin mendo’akan almarhum, tidak perlu mengajak orang sekampung.

Namun jika dilihat dari sudut pandang sosial, peringatan kematian bisa menjadi salah satu cara untuk bersedekah makanan kepada tetangga. Selain itu, juga bisa mempertemukan anggota keluarga besar yang lama tidak bersilaturrahmi. Karena selain mengundang tetangga, juga mengundang anggota keluarga besar.


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Saiful/EMC