Nasib Garam di Pulau Garam

Advertisement

Ads

Nasib Garam di Pulau Garam

Unzilatur Rahmah
Senin, 19 Januari 2015

Tahukah Anda? 60% dari seluruh pasokan garam nasional berasal dari pulau Madura. Pulau kita tercinta yang disebut dengan pulau garam ini memang nomor satu kalau berbicara soal garam. Sebagai masyarakat Madura, kita patut bangga dengan data ini. Pada tahun 2030, pemerintah pusat menargetkan swasembada garam nasional.

Karena memang produksi garam nasional tidak mampu memenuhi kebutuhan garam dalam negeri, terpaksa deh Indonesia harus mengimpor garam dari Australia, Cina dan India. Padahal, secara geografis, Cina dan India adalah negara kecil. Lahan potensial untuk garamnya pun tidak seluas di Indonesia. Data Disperindag tahun 2009 produksi garam dalam negeri sekitar 1,2 juta ton sementara kebutuhan mencapai 2,8 juta ton.

Permasalahan di atas bukan datang tanpa sebab. Melainkan dikarenakan beberapa penyebab sehingga permasalahan di atas kian rumit. Penyebab tersebut antara lain, pertama pemanfaatan lahan garam potensial belum 100 %. Dari total 68.754,16 ha lahan garam potensial, pada tahun 2009 baru sekitar 25.702,06 ha yang dimanfaatkan. Lahan tersebut tersebar di 9 provinsi yaitu Nanggro Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Dapat dipahami, pemanfaatan lahan garam di Indonesia diperkirakan baru sekitar 37,4%.

Kedua, lemahnya para petani garam dalam upaya mengahasilkan garam kualitas unggul seperti yang dihasilkan oleh PT. Garam (persero) Indonesia. Hingga sekarang, kualitas produksi garam petani, kualitasnya masih kalah dengan hasil produksi PT. Garam yang dianggap nomor satu. Hal ini berefek terhadap kualitas garam dalam negeri yang minim. Juga terhadap hasil penjualan garam petani yang rendah akibat rendahnya kualitas. Akibatnya, petani garam seringkali mengeluhkan soal kesejahteraan. Apalagi posisinya sebagai penggarap lahan. Bukan pemilik lahan.

Ketiga, harga garam impor yang relatif murah menyebabkan garam lokal terpaksa mengikuti harga. Murahnya harga garam membuat petani garam rakyat kian menjerit, mengingat kualitasnya yang masih dinomor sekiankan.

Yah, begitu lah nasib garam di Pulau Garam ini. Tak jelas. Yang jelas, petani garam harus semakin cerdas untuk menghasilkan garam kualitas unggul. Pemanfaatan lahan garam potensial juga harus dioptimalkan. Tentu dengan bantuan dari Dinas Kelautan Perikanan atau pemerintah terkait.




Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Saiful/EMC