Madrasah Diniyah dan Pendidikan Keagamaan Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Madrasah Diniyah dan Pendidikan Keagamaan Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Senin, 12 Januari 2015

Madrasah Diniyah Bustanul Ulum III, Desa Angsanah, Kec. Palengaan, Kab. Pamekasan


Selain pondok pesantren, madrasah diniyah juga memiliki peran yang tak kalah pentingnya dalam pendidikan keagamaan masyarakat Madura. Pengembangan kompetensi guru madrasah diniyah kini bahkan menjadi salah satu program unggulan Pemprov Jawa Timur dalam bidang pendidikan.

Kemunculan madrasah diniyah sebetulnya tidak jauh jaraknya setelah kemunculan pondok pesantren. Karena setiap pondok pesantren, pasti memiliki lembaga pendidikan madrasah diniyah. Meski demikian, tidak semua madrasah diniyah yang ada di Madura berada di dalam lingkungan pondok pesantren.

Berbeda dengan pondok pesantren, madrasah diniyah tidak hanya diperuntukkan bagi santri yang mondok. Tetapi juga untuk santri yang tidak mondok. Biasanya berasal dari daerah sekitar madrasah. Guru yang mengajar pun tidak harus kiayi. Bisa ustadz yang merupakan almni pondok pesantren, atau santri senior di pondok pesantren yang menaungi madrasah diniyah tersebut. Pelaksanaannya biasnya siang hingga sore hari. Antara pukul 13.30-14.30.

Yang sama dengan pondok pesantren adalah kurikulumnya. Sama-sama mengajarkan ilmu agama dari kitab-kitab klasik. Materinya pun beragam. Kitab satu mengajarkan tentang Tauhid. Kitab yang satunya mengajarkan fiqih. Kurikulum yang harus ada dalam madrasah diniyah ialah Tauhid, Fiqih, Bahasa Arab, Ilmu Tajwid (untuk tingkat kanak-kanak), tashawuf, ilmu Al-Qur’an dan Hadist (untuk tingkat remaja) dan  Nahwu Sharraf.

Metode pembelajaran yang diterapkan sudah lebih beragam jika dibandingkan dengan di pondok pesantren. Mulai dari metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan sebagainya. Tergantung kelas dan kelompok usianya. Juga sudah dilaksanakan ujian semester selain haflatul imtihan di akhir tahun ajaran. Terdapat pula raport siswa yang menandakan hasil belajarnya selama 1 tahun.

Beberapa anak yang tidak mau mondok lebih memilih untuk sekolah di madrasah diniyah saja. Karena memang ada beberapa anak yang tidak mau jauh dari orang tuanya, atau sebaliknya.


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Saiful/EMC