Kaum Laki-Laki Madura dan Kopiah

Advertisement

Ads

Kaum Laki-Laki Madura dan Kopiah

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 17 Januari 2015


Kopiah merupakan salah satu pakaian yang identik dengan kaum laki-laki, utamanya kaum laki-laki Madura. Tanpa kopiah, kaum laki-laki Madura seperti perempuan tanpa perhiasan. Ada sesuatu yang kurang. Kopiah juga menjadi simbol keagamaan masyarakat dunia. Masyarakat yang biasa menggunakan kopiah ialah masyarakat Muslim.

Laki-laki Madura yang kesehariannya hampir tidak pernah lepas dari kopiah, biasanya ia adalah santri, atau pernah menjadi santri. Kopiah juga hampir tidak pernah lepas dari kepala para tokoh agama seperti kiai dan ustadz. Kopiah juga seperti menjadi pakaian wajib bagi siswa atau santri di lembaga pendidikan di bawah naungan pondok pesantren.

Bahkan dalam skala nasional, Indonesia memiliki kopiah nasional berwarna hitam. Kopiah tersebut biasanya digunakan dalam acara-acara resmi oleh para pejabat negara. Misalnya dalam acara peringatan hari kemerdekaan.

Meski bukan ajaran Rasulullah, kopiah sudah menjadi pakaian budaya dan keagamaan. Secara historis, Rasulullah sangat menyukai sorban sebagai penutup kepala. Kalau Bangsa Arab menggunakan sorban sebagai penutup kepala, maka masyarakat Madura menjadikan kopiah atau songkok sebagai pengganti sorban.

Karena itu lah, masyarakat Madura hampir tidak pernah lepas dari kopiah jika sedang melaksanakan ibadah, atau sedang berada dalam acara sosial keagamaan. Secara fungsi, kopiah berfungsi sama seperti sorban. Sebagai hiasan, pelindung kepala, dan pelengkap pakaian ketika hendak beribadah, utamanya ibadah shalat. Kopiah mencegah rambut jatuh ke dahi agar tidak menghalangi ketika bersujud. Ada beberapa orang yang dalam kesehariannya tidak biasa menggunakan kopiah, ketika shalat tidak lepas dari kopiah. Meski pada dasarnya, kopiah bukan merupakan pakaian wajib ketika shalat. Yang terpenting, rambut tidak menghalangi dahi ketika bersujud.

Selain dalam shalat, kopiah dalam masyarakat Madura juga digunakan ketika akan menghadiri hajatan yang bersifat keagamaan. Misalnya tahlilan, undangan peringatan kematian, menghadiri undangan akad nikah, haflatul imtihan, dan hajatan-hajatan lainnya. 

Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Saiful/EMC