Karapan Sapi Simbol Ekonomi, dan Watak Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Karapan Sapi Simbol Ekonomi, dan Watak Masyarakat Madura

Unzilatur Rahmah
Rabu, 07 Januari 2015

Karapan sapi merupakan salah satu budaya Madura yang hingga kini masih lestari. Terlepas dari kontroversi haram tidaknya karapan sapi, sebagian dari masyarakat Madura sangat mencintai budaya ini.

Karapan sapi biasanya digelar pada akhir musim tanam tembakau. Sebagai penutup musim kemarau hingga awal musim penghujan. Dua ekor sapi yang dipasangkan dipacu oleh seorang joki. Jaman dulu, Joki tersebut menggunakan paku yang ditusukkan ke paha atau pantat sapi, untuk membuat sapi berlari dengan cepat. Pada sesi latihan, joki tersebut biasanya hanya menggunakan cambuk.

Yang namanya Karapan Sapi, yang diadu pasti kecepatan lari sapi. Yang lebih dulu tiba di garis finish, dia yang menang.

Tahukah Anda ? dibalik kesenian Karapan Sapi itu tersimpan filosofi tentang masyarakat Madura. Dari segi ekonomi, Karapan Sapi sebetulnya bermula dari kebiasaan masyarakat Madura memelihara sapi sebagai penopang ekonomi keluarga. Dari kebiasaan itu, sebagian masyarakat menjadikan aktivitas memelihara sapi bukan sekadar bernilai ekonomi. Tetapi juga sebagai hobi. Dari hobi itu lah, sapi dirawat dengan sangat baik. Diberi jamu, diberi pakan khusus, intinya, perawatan bintang lima untuk ukuran sapi.

Selain nilai ekonomis yang melatarbelakangi munculnya Karapan Sapi, juga terkandung filosofi watak orang Madura. Dari Karapan Sapi, bisa dilihat bahwa orang Madura adalah pekerja keras. Pantang berdiam diri. Pengangguran bagi orang Madura adalah sampah. Jadi masyarakat Madura, bagaimana pun susahnya mencari uang, pantang berdiam diri. Entah itu sekadar membantu pekerjaan orang tua.

Dalam kecepatan lari Sapi kerap, terkandung filosofi andalan masyarakat Madura. Siapa cepat dia dapat. Siapa yang paling pagi bangun tidur, dia yang lebih dulu mendapat rejeki. Jika tidak percaya, buktikan sendiri. Anda bangun pagi saat anggota keluarga yang lain masih tidur. Maka Anda yang lebih dulu ‘aber-èber’. Meski sekadar minum air. Bukan kah itu rejeki ? hehe

Keterangan:

aber-èber : Mencicipi makanan atau minum di pagi hari untuk menghilangkan rasa pahit di lidah setelah tidur.


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Saiful/EMC