Guru Ngaji di Madura, Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat

Advertisement

Ads

Guru Ngaji di Madura, Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat

Senin, 19 Januari 2015


Di luar Madura, menjadi guru ngaji bisa sekaligus menambah pemasukan untuk belanja rumah tangga. Karena untuk bisa mengaji, di luar Madura memang harus membayar kepada guru ngaji. Meski bukan menjadi aturan yang patent.

Namun di Madura, tidak demikian. Selama ada keinginan untuk belajar membaca Al-Qur’an, anak-anak bisa sesuka hati belajar mengaji tanpa orang tua harus terbebani dengan masalah biaya. Masyarakat yang mengajikan anaknya ke ustadz atau kiayi tertentu hanya – dengan kesadaran sendiri – membayarkan zakat fitrah ke guru ngaji anaknya.

Pekerjaan menjadi guru ngaji di Madura tidak bisa dijadikan salah satu kerja sampingan. Menjadi guru ngaji harus betul-betul berniat untuk mengabdi kepada masyarakat. Karena masyarakat memang tidak memberikan sumbangan untuk sedikit menambah nafkah si guru ngaji. Seorang guru ngaji di Madura wajib memiliki pekerjaan di luar mengajar membaca Al-Qur’an.

Pada bulan Ramadhan, biasanya guru ngaji baru mendapat rejeki dari pekerjaannya mengajar mengaji. Biasanya berupa zakat maal dan zakat fitrah dari masyarakat sekitar dan wali murid.

Pekerjaan mengajar membaca Al-Qur’an di Madura biasanya diwariskan secara turun temurun. Jika salah seorang tokoh Madura menjadi guru ngaji, kemungkinan besar orang tua atau mertuanya adalah guru ngaji. Meski demikian, ada pula guru ngaji yang membuka pembelajaran membaca Al-Qur’an sendiri (bukan warisan). Tapi selanjutnya, pekerjaan tersebut biasanya akan diwariskan kepada putra atau putrinya.

Pekerjaan sebagai guru ngaji di Madura bisa ditemukan di masjid, mushalla, langgar, rumah pribadi, dan pesantren. Meski demikian ada juga masyarakat yang mengajari sendiri anaknya belajar membaca Al-Qur'an. Orang tua yang mengajari sendiri anaknya mengaji biasanya memiliki latar pendidikan agama yang cukup kuat.


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2015 - Saiful/EMC