Beberapa Tradisi Hindu yang Masih Tersisa di Madura

Advertisement

Ads

Beberapa Tradisi Hindu yang Masih Tersisa di Madura

Unzilatur Rahmah
Rabu, 07 Januari 2015

1.      Peringatan kematian. Peringatan kematian mulai dari 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari merupakan sisa tradisi hindu. Namun demikian, telah mengalami akulturasi dengan tradisi Islam. Karena dalam setiap peringatan kematian tersebut, masyarakat tidak lagi menggunakan sesajen. Tetapi melaksanakan tahlilan untuk almarhum yang sedang diperingati kematiannya. Tahlilan merupakan kebiasaan baik dalam Islam, dimana masyarakat bersama-sama berdzikir membaca kalimat-kalimat pujian kepada Allah. Meski tidak diajarkan oleh Rasulullah, tahlillan sudah terbukti efek positifnya dalam kehidupan sosial.

2.      Kebiasaan membakar dupa. Kebiasaan membakar dupa juga merupakan peninggalan tradisi Hindu yang masih bertahan. Dalam ajara Hindu, membakar dupa dipercaya dapat menenangkan arwah nenek moyang. Namun sekarang, masyarakat Madura membakar dupa biasanya untuk menyadarkan orang yang sedang pingsan, atau dalam keadaan sakaratul maut. Sehingga orang yang sedang sakaratul maut tetap sadar, dan bisa diingatkan untuk menyebut asma Allah.

3.      Tradisi rokat tasè’ (petik laut). Dalam petik laut, meski sudah mengalami akulturasi, kepercayaan masyarakat belum sepenuhnya bersih dari Hindu. Pasalnya, selain melaksanakan istighasah bersama, tradisi larung makanan dan tabur bunga ke laut masih di lakukan. Padahal dalam Islam, makanan tidak untuk dibuang ke laut, tapi untuk dimakan.

4.      Kepercayaan terhadap hari baik. Masyarakat Madura masih saja menggunakan perhitungan wuku, hari, dan sebagainya untuk menentukan hari baik. Bahkan ada beberapa masyarakat yang memiliki perimbon Jawa. Dalam Islam, semua hari itu baik. Hanya saja, kalau hari Jum’at memang sayyidul ayyam.

5.      Meletakkan makanan di tempat yang dianggap ada penunggunya. Jika ada orang sakit yang penyebabnya dianggap karena terkena kualat penunggu salah satu tempat, maka tempat tersebut diletakkan sesajen. Sesajen tersebut biasanya terdiri dari makanan, atau keminyan yang dibakar. Islam memang mewajibkan manusia untuk percaya tentang keberadaan alam ghaib, termasuk setan dan jin sebagai penghuninya. Namun tidak untuk berdamai dengan mereka. Apalagi setan yang merupakan musuh yang nyata.

Sebetulnya masih banyak sisa-sisa tradisi hindu yang sebagian sudah bersih secara aqidah Islam, sebagian lagi masih kotor. Lima tradisi di atas hanya sebagian kecil saja.

Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Saiful/EMC