Tradisi Malang Areh Untuk Bayi yang Baru Lahir

Advertisement

Ads

Tradisi Malang Areh Untuk Bayi yang Baru Lahir

Unzilatur Rahmah
Minggu, 21 Desember 2014

Bayi lahir pertanda rejeki dalam sebuah keluarga akan bertambah. Bayi merupakan berkah bagi keluarganya. Kebahagiaan pun bertambah dengan bertambahnya anggota keluarga dalam keluarga tersebut.

Sebagai bentuk rasa syukur atas kebahagiaan dan nikmat dari Allah, dalam Islam, anak yang berusia 7 hari disunnahkan untuk dilaksanakan aqiqah. Pelaksanaan aqiqah yakni dengan memotongkan 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan memotong 3 helai rambutnya. Dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan juga dipotong 3 helai rambutnya. Daging kambing tersebut kemudian dibagikan ke tetangga atau sanak famili. Atau dimasak lalu dijadikan sajian untuk para undangan.

Namun, ada yang berbeda nih dengan tradisi bagi anak yang baru lahir di masyarakat Madura. Tradisi yang hampir mirip dengan aqiqah dalam masyarakat Madura disebut Malang Arèh. Pelaksanaannya hampir sama dengan pelaksanaan aqiqah.

Bedanya, bayi biasanya ditimang dengan menggunakan wadah. Bentuk wadahnya biasanya berbentuk kapal laut dengan hiasan lampu dan bunga-bunga. Pelaksanaan Malang Arèh untuk bayi perempuan biasanya sebelumberusia 40 hari. Sedangkan untuk bayi laki-laki setelah usia 40 hari.

Setelah bayi diletakkan di dalam wadah berhias warna-warni, bayi ditimang dan diperlihatkan ke seluruh undangan sambil dibacakan shalawat. Ada yang memegang bayi beserta wadahnya, diikuti air kembang dan parfum yang disemprotkan ke seluruh undangan. Air kembang itu fungsinya sebagai air yang dibacakan shalawat. Seperti Al-Qur’an yang dibacakan dalam segelas air. Dapat diminum dan diusapkan ke wajah sebagai obat dan penyegar wajah.

Selain itu, sebelum diperlihatkan ke seluruh undangan, di bawah bayi diletakkan uang kertas. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, itu sebagai penarik rejeki. Barangkali ada dari sekian undangan yang mau menyisihkan sedikit uang untuk bayi tersebut. Uang yang diberikan langsung diletakkan di atas bayi.

Namun tidak semua bayi yang dilaksanakan Malang Arèh sekaligus dilaksanakan aqiqah. Karena ada beberapa keluarga yang tidak memiliki uang cukup untuk membeli kambing. Sehingga, tak sedikit dari orang Madura yang lahir tidak diaqiqahkan. Atau jangan-jangan, pembaca artikel ini merupakan salah satu dari masyarakat Madura yang belum diaqiqahkan?


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Unzilatur/EMC