Ragam Bahasa Ènggi-Bhunten dan Penggunaannya

Advertisement

Ads

Ragam Bahasa Ènggi-Bhunten dan Penggunaannya

Unzilatur Rahmah
Minggu, 21 Desember 2014

Tingkatan bahasa Madura menunjukkan masih adanya tingkatan kasta sisa-sisa tradisi Hindu. Meski demikian, tingkatan bahasa Madura memberikan warna tersendiri. Dari bahasa, orang bisa mengenal kualitas dari orang tersebut. Termasuk tingkatan bahasa Madura yang ia gunakan.

Tingkatan Bahasa Madura paling tinggi adalah Ènggi-Bhunten. Bahasa Ènggi-Bhunten ala masyarakat Sumenep daerah kota ke timur, berbeda dengan Bahasa Ènggi-Bhunten ala masyarakat Sumenep bagian barat dan Pamekasan. Di Sumenep, ‘saya’ biasanya menggunakan ‘kauleh’. Sedangkan Sumenep bagian barat dan Pamekasan menggunakan ‘guleh’. Sebab bahasa masyarakat Sumenep bagian barat memang lebih cenderung sama dengan Bahasa Madura masyarakat Pamekasan. 

Di Pamekasan, ‘ini’ adalah ‘ka’dintoh’. Sedangkan di Sampang, ‘ini’ adalah ‘kintoh’. Selain itu, ada banyak kata dalam Bahasa Ènggi-Bhunten yang sedikit berbeda, baik di Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Dari Bangkalan hingga Sumenep, tempat penggunaan Bahasa Ènggi-Bhunten semuanya hampir sama. Bahasa Ènggi-Bhunten digunakan kepada orang yang lebih muda ke orang yang lebih tua (Dengan syarat pembiasaan dari keluarga), dari anak ke orang tua, dari murid ke guru, dan dari masyarakat awam ke keluarga kiayi. Bahasa Ènggi-Bhunten juga biasa digunakan dalam acara formal. Misalnya dalam seminar atau rapat yang menggunakan Bahasa Madura.


Author : Unzilatur Rahmah | Foto : © 2014 - Saiful/EMC