Pribahasa Bahasa Madura dan Artinya (2)

Advertisement

Ads

Pribahasa Bahasa Madura dan Artinya (2)

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 27 Desember 2014


Akanta Bhelling kaojhenan (seperti beling terkena hujan) : Orang yang tidak bisa menerima nasihat atau tidak mau dinasehati.

Nyaba' Tellor e atas betton (menaruh telur diatas muka kaki lencak) : Maksudnya misalnya bertunangan kudu hati-hati agar tidak ada masalah, biar bisa berlanjut hingga pernikahan.

Aeng gegger ka deun tales (air jatuh ke daun talas) : Maksudnya sama dengan pribahasa akanta bhelling kaojhenan. Orang yang ketika diberi nasihat, masuk telinga kanan, keluar di teliga kiri. Tidak ada yang nyangkut di pikirannya.

Caca Matta (Bicara mentah) : Orang yang bisanya bicara, tanpa ada bukti berupa tindakan.

Arabes pagher (Menerobos pagar) : Melanggar norma masyarakat, khususnya norma asusila. Biasanya digunakan kepada orang yang suka mengganggu tunangan atau istri orang.

Ngal-bengal mardeh (Berani-berani arang) : Tidak betul-betul berani. Beraninya setengah-setengah.

Kata’ sakolla (Kodok sekolam) : Tuduhan pada satu kelompok, bahwa semua anggota kelompok tersebut sama saja (dalam hal negatif).

Lebbi sodu korang tajhin (Lebih sendok kekurangan bubur) : Lebih banyak orang yang mau mengerjakan daripada pekerjaannya.

Abujai sagere (Menggarami segara atau laut) : Menasehati atau memberi tahu orang yang sudah paham atau jauh lebih berpengalaman.

Aperrean ka dhaging beres (Mengena pada daging sehat) : Menyalahkan atau memarahi orang lain yang sebetulnya tidak bersalah.

Perrèng ondung ka rebbhung (bambu menyandar pada rebung) : Orang tua yang mengikuti kemauan anak.

Ales tangghal sakalean (Alis tanggal satu) : Gambaran alis seorang perempuan cantik yang sama seperti bulan pada tanggal satu.

Cantèng bhetok (gayung batok) : Gambaran tentang orang yang susah mendengar (tuli. Atau tidak tuli tapi tidak juga mendengar perkataan orang lain)