Langgar, Cikal Bakal Pendidikan Pesantren di Madura

Advertisement

Ads

Langgar, Cikal Bakal Pendidikan Pesantren di Madura

Unzilatur Rahmah
Selasa, 02 Desember 2014

surau al ihsan talang siring pamekasan madura
Langgar di Pamekasan, Madura. © 2014 eMadura.com/Ahmad

eMadura.com - Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan paling berpengaruh di Madura. Tak sedikit masyarakat yang lebih memilih lembaga pendidikan pesantren untuk mendidik putra-putrinya dibandingkan lembaga pendidikan negeri. Ini dikarenakan pesantren menawarkan pendidikan terpadu. Bahkan pendidikan agama, moral, dan kedisiplinan jauh lebih diprioritaskan dibandingkan pendidikan ranah kognitif.

Namun tahukah Anda ? Lembaga pendidikan pesantren ternyata tidak langsung besar dan banyak peminatnya seperti sekarang. Pesantren di Madura dahulu merupakan langgar. Langgar ialah tempat dimana anak-anak mengaji Al-Qur’an. Dulu, membaca Al-Qur’an memang masih menjadi satu-satunya ilmu yang wajib dikuasai setelah shalat puasa dan zakat.

Metode pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan Langgar adalah sorogan. Santri membaca belajar membaca Al-Qur’an satu persatu secara bergiliran kepada ustadz atau kiayi. Sambil lalu menunggu santri yang sedang ‘dilayani’, santri yang lain belajar sendiri masing-masing bacaan yang akan ia setor. Sedangkan jika ada santri yang sudah lebih dewasa dan pandai membaca Al-Qur’an, ia akan diminta untuk membantu ustadz atau kiayi membimbing santri-santri yang lain. Pelaksanaan mengaji biasanya selepas shalat Maghrib hingga Isya’.

Usai shalat Isya’, ustadz atau kiayi ada yang memiliki kebiasaan mendongeng. Isi dongengnya biasanya kisah-kisah para nabi dan pendahulu mereka. Dongeng tersebut sarat akan nasihat. Sehingga selain sebagai wahana hiburan (karena dulu belum ada listrik dan TV), dongeng tersebut sebagai salah satu media pendidikan para santri.

Seiring dengan perkembangan zaman, langgar-langgar tua pun bermutasi menjadi pesantren. Kiayi bersama masyarakat mendirikan bilik (sekarang asrama) untuk santri yang ingin belajar full di langgar. Santri yang berminta untuk belajar di langgar dengan menginap pun semakin banyak. Di siang hari, santri mulai belajar mengkaji kitab kuning klasik. Selain itu juga membantu aktivitas kiayi seperti memasak, mencuci, bersih-bersih, hingga bercocok tanam.

Setelah itu adanya lembaga pendidikan madrasah, baru lah pesantren memiliki lembaga pendidikan non-formal yakni Madrasah Diniyah. Dan selanjutnya, hadir lah madrasah formal hingga sekolah yang berada di bawah pesantren. Bahkan sekarang banyak pesantren yang menyediakan lembaga pendidikan tinggi bagi santrinya maupun masyarakat non-santri.



Author : Unzilatur R
Foto : (c) Saiful/EMC