Tradisi Melayat dan Tèngka Dalam Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Tradisi Melayat dan Tèngka Dalam Masyarakat Madura

Jumat, 14 November 2014

eMadura.com - Sebagai salah satu suku yang kaya akan tradisi, Madura memaknai setiap fase kehidupan manusia. Termasuk juga fase kematian. Selain kewajiban memandikan, mengkafani, menshalatkan dan mengubur, masyarakat Madura juga ‘memiliki kewajiban’ alalabet (melayat).

Mungkin bagi masyarakat kota, melayat itu cukup hari saat kematian. Tapi bagi masyarakat Madura desa, melayat itu berlaku sampai 7 hari. Sehingga ada istilah 7 harian, 40 harian, 100 harian, satu tahun, dan 1000 hari mengenang kematian seseorang.

Selama 7 hari termasuk hari kematian, biasanya di rumah duka dilaksanakan tahlilan bagi kaum laki-laki sekitar. Sedangkan kaum ibu-ibu melayat dengan cara membawa jenis sembako. Jenis sembako yang paling umum dibawa ialah beras.

Tradisi ini meski tidak wajib secara syariat, namun wajib dalam norma sosial. Kalau kata masyarakat Madura, diistilahkan dengan tèngka. Tèngka merupakan norma yang tidak ada sekolahnya. Hanya bisa dipelajari langsung dari prakteknya dalam masyarakat. Dan orang atau keluarga yang prilaku atau tindakannya tidak sesuai dengan masyarakat, dianggap tidak tahu tèngka. Dan hal itu justru memicu ghibah atau bahan gosip yang berkepanjangan.

Misalnya ada orang yang tidak pernah ikut tahlilan. Atau pihak perempuan dalam satu keluarga tidak melayat dengan membawa sembako pada tetangga dekatnya yang meninggal. Maka keluarga tersebut akan menjadi bahan omongan. Ia akan disebut sebagai orang atau keluarga yang tidak tahu tèngka. Sehingga menjaga tèngka sama halnya menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dari perbuatan dosa ghibah.




Author : Unzilatur R
Foto :