Saronèn dan Lodruk, Kesenian Musik Madura Bagian Timur

Advertisement

Ads

Saronèn dan Lodruk, Kesenian Musik Madura Bagian Timur

Unzilatur Rahmah
Jumat, 28 November 2014

Lodruk madura
eMadura.com - Di tengah terpaan keras globalisasi, kesenian musik kelompok yang bernama Saronèn ini ternyata masih mampu bertahan dengan baik. Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, Saronèn masih eksis di daerah Sumenep.

Jika dirunut ke sejarah, Saronèn merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang digunakan kiayi Khatib, cicit Sunan Kudus, untuk berdakwah di daerah Sendang, Kec. Paragaan, Sumenep Madura. Cara berdakwah menggunakan kesenian ini merupakan warisan dari Walisongo pada generasi selanjutnya. 

Saronèn sendiri berasal dari bahasa Madura ‘Sennènan’. Karena Kiayi Khatib biasa memainkan Saronèn tiap hari senin di pasar sambil lalu mengajak masyarakat memeluk Agama Islam. Musik Saronèn merupakan jenis musik tiup. Hampir sama dengan terompet. Terbuat dari kayu jati yang dibentuk kerucut dengan 1 lubang di belakang, dan 6 lubang di depan untuk mengatur nada. Untuk mempertajam suara, Saronèn disambung dengan daun siwalan yang berbentuk serupa namun lebih besar. Sehingga bagian depannya menyerupai mulut terompet. Memainkan musik Saronèn biasanya dipadukan dengan Gong, Kenong, Kerca, dan Gendang. 

Namun pada zaman sekarang, Saronèn dimainkan bukan lagi sebagai media dakwah. Saronèn sudah murni menjadi hiburan. Untuk mengiringi tarian atau tandek, karapan sapi, pencak silat, hingga group pentas drama. Group pentas drama yang masih eksis dan menjadikan Saronèn sebagai kesenian musik pengiring antara lain Rukun Family dan Rukun Karya.





Author : Unzilatur R
Foto : (c) Saiful/EMC