Bu’u’, Makanan Ketahanan Pangan Khas Madura

Advertisement

Ads

Bu’u’, Makanan Ketahanan Pangan Khas Madura

Unzilatur Rahmah
Sabtu, 22 November 2014


eMadura.com - Mantan menteri pertanian, Bungaran Saragih pada tahun 2002 lalu pernah menganjurkan masyarakat desa, utamanya yang memiliki lahan tegal untuk menanam umbi-umbian. Bahkan untuk merealisasikan program, Bungaran Saragih membentuk organisasi Balai Penelitian  Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Tujuannya untuk memberdayakan ketahanan pangan di masyarakat petani.

Di Madura, jauh sebelum menteri meresmikan organisasi tersebut, sudah kenal sangat akrab dengan tanaman umbi-umbian. Bahkan saat masa sulit pra dan pasca kemerdekaan, umbian sudah menjadi makanan pokok masyarakat Madura. Umbi-umbian yang ditanam masyarakat hingga sekarang juga beragam. Ada Ubi Jalar, Ketela Rambat, Ketela Pohon atau singkong, Talas, dan Kaburan atau Gembili.

Setiap warga yang memiliki lahan tegal atau sawah yang kurang produktif, dapat dimanfaatkan dengan menanaminya umbi. Di Madura sendiri, di lahan tegal pasti diselingi dengan umbi-umbian. Entah itu singkong, ubi jalar, atau ketela rambat. Sedangkan khusus lahan kurang produktif, ditanami Talas.

Mungkin bagi sebagian masyarakat, makan umbi-umbian biasanya dimakan langsung setelah direbus atau dikukus. Paling hanya dimakan dengan sambal. Tapi di Madura, umbi-umbian lebih sering diolah menjadi bu’u’ atau nase’ bu’u’. 

Cara mengolahnya pun sama pada semua jenis umbi apapun. Setelah sikupas dan dibasuh, umbi-umbian dikukus. Setelah matang lalu dihancurkan dengan cara menumbuknya pada wadah datar. Jika suka, dapat diberi campuran nasi aking yang sudah dikukus bersama umbi tadi. Setelah hancur, diurap dengan parutan kelapa. Dan akan jauh lebih nikmat jika dimakan bersama sop Daun Kelor yang masih sedikit panas.



Author : Unzilatur R
Foto : (c) Unzilatur/EMC