Balap Merpati, Budaya Yang Tak Lagi Dibudayakan

Advertisement

Ads

Balap Merpati, Budaya Yang Tak Lagi Dibudayakan

Kamis, 13 November 2014




eMadura.com - Salah satu tradisi yang kini sudah hampir tidak ada lagi ialah kerapan Merpati. Alasan utama balap Merpati ini punah, karena pelaksanaannya yang sarat dengan taruhan alias judi. Bukan sekadar perlombaan yang memperebutkan juara. Dan tak sedikit tokoh agama yang mengetahui fenomena tersebut. Sehingga beberapa tokoh agama di Madura memfatwakan balap Merpati haram dilaksanakan.

Padahal, jika seandainya balap Merpati ini tidak dinodai dengan taruhan, dapat menjadi salah satu objek wisata budaya yang bisa dikembangkan seperti kerapan Sapi.

Bedanya dengan kerapan Sapi, istilah balap Merpati di Madura ialah ‘nganduk dhereh’. Nganduk dhereh artinya memancing burung dara jantan agar terbang kea rah burung dara betina. Meski sama-sama mengadu kecepatan, balap Merpati tidak menyakiti hewan balapan seperti kerapan Sapi. Balap Merpati memanfaatkan naluri Merpati untuk terbang menuju pasangannya. Tidak ada kekerasan, dan tidak pula menyakiti Merpati.

Dalam latihan atau perlombaan, merpati betina dipegang oleh orang sambil dikibaskan ke atas- ke bawah agar merpati jantan bisa melihatnya. Sedangkan merpati jantan dipegang orang lain di depannya dengan jarak yang ditentukan, kira-kira 10-20 meter. Setelah itu Merpati jantan dilepaskan untuk terbang menuju pasangannya. Merpati yang lebih dahulu tiba pada pasangannya dialah yang menang. 

Seandainya tidak ada unsur judinya, barangkali balap Merpati bisa menjadi budaya yang tak kalah menariknya dengan kerapan Sapi.



Author : Unzilatur R
Foto : (c) Saiful/EMC