Cari Jodoh Ala Masyarakat Madura

Advertisement

Ads

Cari Jodoh Ala Masyarakat Madura

Minggu, 26 Oktober 2014

eMadura.com - Jodoh memang merupakan rahasia Tuhan. Tetapi jodoh didapat melalui usaha. Tidak datang begitu saja. Bagi masyarakat Madura, jodoh yang baik harus diusahakan. Tak peduli laki-laki maupun perempuan.

Bagi laki-laki Madura, jika ia tidak memperoleh jodoh melalui pacaran, biasanya diberi saran oleh kerabat, teman, atau tetangga. Sedangkan bagi perempuan Madura yang tidak mengenal pacaran, ya hanya menunggu ada orang yang melamar. Ada juga yang dicarikan oleh bapak atau familinya. Biasanya perempuan yang dicarikan jodoh diistilahkan dengan ‘ayam tanpa sangkar’. Sedangkan laki-laki diistilahkan dengan 'sangkar tanpa ayam'.

Nah, si bapak atau familinya akan bertanya kepada kenalan atau tetangga jauh.‘Ngkok andi’ ajem tade’ korongah, ma’ pola be’en andi’ korong se ghi’ kosong ?’ (aku punya ayam tanpa sangkar, barangkali kamu punya sangkar yang masih kosong ?). Orang yang ditanyakan jika ia asli orang Madura, biasanya akan langsung tanggap. Jika tidak ada, orang tersebut biasanya akan siap mencarikan.

Itu jika sedang mencari jodoh. Lain halnya jika sudah menemukan orang yang pas untuk dilamar. Pihak laki-laki akan mencari informasi tentang perempuan yang akan dilamarnya terkait bibit bebet bobotnya. Pencarian informasi tersebut biasanya melalui tetangga dekat atau tetangga jauh si perempuan. Mulai dari persoalan pendidikan, agama, keturunan, dan sebagainya. Persoalan keturunan sepertinya masih sangat diprioritaskan dalam mencari jodoh. Keturunan di sini maksudnya, dia anak di luar nikah apa bukan. Atau salah satu dari anggota keluarganya, missal bapak-ibunya, kakek-neneknya, hingga 7 tingkat ke atas, apa salah satunya ada yang merupakan anak di luar nikah. Jika iya, biasanya si laki-laki akan mempertimbangkan kembali untuk melamar atau tidak.

Begitu pula dengan pihak perempuan. Jika ada laki-laki yang melamar, biasanya tidak langsung diberi jawaban. Setidaknya diminta untuk kembali lagi 3 hari berikutnya. Waktu 3 hari tersebut biasanya oleh keluarga digunakan untuk mencari informasi tentang bibit bebet bobot orang yang melamar. Juga digunakan untuk membuat penawaran kepada anak perempuan yang dilamar oleh bapaknya. Mau diterima atau tidak. Dan terakhir, digunakan untuk membuat perundingan dengan keluarga besar. Barangkali justru ada laki-laki yang masih family, berniat untuk melamar si anak gadis. Jika iya, maka lamaran dari pihak luar pun akan ditolak.

Sebab sebagian masyarakat Madura masih menganggap bahwa menjodohkan anak dengan keluarga sendiri jauh lebih baik. Keluarga tidak akan semakin jauh, bibit bebet bobotnya pun sudah tahu luar dalam.

Jika tidak, maka lamaran dari pihak luar pun akan diterima. Selama, bibitnya jelas, dan si anak gadis mau menerima. Tanggal pertunangan pun ditentukan saat itu juga.

Oh iya, pihak laki-laki yang melamar biasanya tidak melamar sendiri. Tapi lewat orang lain. Istilahnya “masang pangade’”. Pangade’ biasanya orang yang dipilih pihak laki-laki, yang sedikit banyak, tahu seluk beluk keluarga pihak perempuan. Pangade’ juga baiknya dipilih orang yang dikenal baik oleh pihak perempuan. Sebab itu juga menentukan diterima atau tidaknya lamaran. Jika pangade’nya preman, bukan tidak mungkin orang yang melamar juga dianggap preman. Hal ini juga berlaku meskipun yang gadis yang dilamar merupakan pacarnya sendiri. 

Banyak ya penjelasannya ? Bikin bingung ? Sama, saya juga bingung. Tapi bukan sama tulisannya. Bingung karena saya sendiri gadis Madura yang sepertinya, keluarga masih memegang teguh tradisi tersebut.


Author : Unzilatur R
Foto :